Hiburan

Film Leher Angsa : Film Produksi Alenia Pictures

Film Leher Angsa Film Produksi Alenia PicturesAda konsistensi tingkah laku yg seterusnya jadi kelakuan gambar hidup produksi Alenia Pictures. Mereka berkata guna anak-anak dan manusia besar berkaitan Indonesia. dekat Leher Angsa, mereka hadirkan negara larutan dan problematika di olak keindahan dan ketajiran alamnya.

Dalam Leher Angsa, yg disutradarai Ari Sihasale, Alenia menggandeng penonton menyelami negara tunggal: daerah Lombok yg permai. Gambar-gambar rekreasi lingkungan yg megah disodorkan cas salah lihat. Gunung Rinjani dan dusun-dusun dgn hunian rutinitas. Gambar-gambar itu menggandeng anak-anak berwisata ke sisi-sisi ayu Ibu Pertiwi yg lumayan gila terjamah silau camera di umumnya sinema kita.

Di olak keindahan itu ada kesederhanaan pandangan hidup masyarakat dan kemiskinan. dekat keindahan dan kemiskinan itu ada muka anak-anak yg terus senang. tak penangis dan menangis-nangis. Ada optimisme.

Tema Leher Angsa lumayan alamiah, yakni berkenaan pemakaian toilet leher angsa terhadap ganti rutinitas campak tujuan di anak sungai. Tema ini dikembangkan dgn sebentuk kanak-kanak narasi. persona utamanya yakni empat sekawan anak-anak sekolah basic, adalah Aswin, Sapar, Najib, dan Johan. ekstra orang tua mereka dgn aneka tingkah laku, termasuk juga Pak ganteng yg diperankan oleh Lukman Sardi dan wanita barunya yg diperankan oleh Alexandra Gottardo.

Dalam tema bersahaja itu disertakan sebanyak gambar menyangkut rutinitas orang tua yg menghunjam ke awang. contohnya perilaku campak tujuan di anak sungai, perkara bengkak yg baru bakal selesai disaat sang infeksi berakhir, berkaitan kucing dan ikan asin, berkenaan Aswin, anak yg senang mengucapkan. apalagi, berkenaan penyakit “eksistensial” tersangkut pandangan hidup dan mati.

Cerita-cerita mungil itu diurai dan dikaitkan dgn tema total. sekian banyak narasi diungkapkan dekat tipe komedi dan karikatural. contohnya perjalanan kotoran awal anak sungai ke laut. Kotoran itu berjumpa ikan. Sang ikan menderita pancing dan berlanjut hingga ke pasar, dulu digoreng, dan berhenti di meja makan. Ini termasuk juga rencana artifisial yg lumayan menggelitik yang merupakan peragaan walaupun( guna penonton tertentu mungkin saja sanggup memunculkan impresi yg relatif aneh nyaman).

Kisah Aswin yg suka melisankan sedang diungkapkan bersama varian humor. demikian gemarnya mengungkapkan, Aswin menyatakan seluruhnya buku di perpustakaan sekolah. dirinya merapal tunggal buku yg persis jumlahnya tiga kali. demikian hausnya beliau mengekspresikan hingga papan berkualitas 10 acara PKK di kelurahan masih beliau hafal. terlebih, teks di nisan di kuburan kembali dia baca sampai dia hafal lulus reputasi dan gugur maut si penghuni kubur, adalah Kortubi. Itu belum pass. surat kabar yg hanyut di anak sungai terus beliau ikuti sambil dibaca isinya.

Film ini berulang pernah menyelipkan “kejahilan” dgn menghubungkan gugur akhir hayat Kortubi bersama hri lengser seseorang jokowi yg dibaca Aswin di surat kabar yg hanyut itu. bersama jenis kesahajaan seseorang entong, sinema ini melontarkan sindiran bersahabat. presiden jokowi kok membatalkan diri, kan enak menjadi joko widodo, kata Aswin.

Sindiran bersahabat partikular Alenia serupa itu kiranya memang lah mengonsumsi wong gemuk yg kalau-kalau menemani anak-anak melihat. Atau menyangkut Pak ganteng yg berudu dgn Pak Kades gara-gara takluk dekat penunjukan sirah lugu. suatu sindiran politis yg menggelitik. sosok Pak Kades diperankan oleh Ringgo Agus Rahman dgn macam karikatural.

Kisah Aswin yg menyukai menyatakan ini sebaik-baiknya absolusi semenjak tema. Namun, toh mampu dicari kaitannya bersama kesukaan Aswin posting narasi, termasuk juga narasinya.

Ada pun yg sesungguhnya pembebasan berasal tema mutlak dan jadi apa adanya disimilaritas yg dimaksud bagi menghibur. Seperti narasi kucing dan ikan asin. guna adegan ini Alenia wirawan melayankan grafis pc yg lumayan mulus mencatat gerak sang kucing yg terkesan kartunik dan sampai dengan cara sketsa. cuma saja, kabar sang kucing ini terkesan belum selesai dan belum berkata apa-apa tercantol bersama keberadaan ikan asin.

Dikutip dari blog omdimas, cara penyajian printhilan anak-anak narasi itu selanjutnya memunculkan tanggapan sinema berdurasi 115 menit ini lumayan panjang guna sementara penonton. jawaban panjang itu unjuk rekahan tak lantaran perihal kebelumbicaraan seperti kesulitan kucing itu tadi. Kucingnya menghela, padahal belum berikan kontribusi margin terhadap total sinema.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *